Skip to main content

Hikmah Perkembangan Kelapa sebagai Pengingat Kematian

Kematian didefinisikan secara ringkas sebagai berpisahnya ruh dari jasad. Berhentinya segala fungsi organ tubuh merupakan akibat dari hal itu. Tulisan singkat ini lebih sebagai analogi sederhana bahwa kematian tidaklah mengenal umur.

Bagi masyarakat Jawa, perkembangan buah kelapa memiliki arti filosofis yang membuktikan bahwa kematian tidaklah mengenal usia. Yang lebih tua tidak mesti lebih dulu meninggal dunia daripada yang lebih muda.

Kelapa memiliki perkembangan bertahap mulai dari : bluluk, cengkir, degan, dan krambil.

Bluluk ialah bentuk buah kelapa yang berukuran sebesar telur ayam.

Cengkir ialah bentuk lanjutan dari bluluk yang berukuran sebesar  tangan orang dewasa dan belum memiliki daging buah.

Degan ialah buah kelapa muda yang memiliki tekstur kenyal pada daging buah. Banyak orang menikmati degan dengan cara memakan daging buah dan meminum airnya. Nikmat dan tentu saja segar.

Krambil ialah buah kelapa tua yang memiliki tekstur keras pada daging buah. Inilah tahap buah kelapa yang sebenarnya. Krambil banyak dimanfaatkan sebagai santan dan bahan pelengkap makanan.

Bluluk, cengkir, degan dan krambil tumbuh bersama dalam satu ikatan dan berada di bagian atas pohon. Secara kuantitatif, tahapan dari bluluk menjadi krambil sebanding dengan ukuran berat. Ukuran paling ringan dimiliki oleh bluluk sedangkan ukuran paling berat dimiliki oleh krambil.

Bila ikatan bluluk, cengkir, degan dan krambil yang berada di bagian atas pohon kelapa sebagai kehidupan, maka jatuhnya salah satu bagian dari keempatnya ke tanah ialah kematian.

Ukuran terberat tidak selalu jatuh terlebih dahulu ke tanah tetapi ada kalanya ukuran teringan lebih dulu jatuh dari ikatan. Itu faktanya.

Usia tua belum tentu lebih dahulu meninggal dunia namun ada kalanya usia muda lebih dulu menemui kematian.

Begitulah analogi memahami kematian yang dipetik dari kejatuhan buah kelapa dari pohonnya.

Satu pelajaran berharga yang diberikan oleh  buah multi-manfaat.

Allahu Musta'an.


Comments

Popular posts from this blog

Colt Brundul

Minggu pagi ketika banyak orang sibuk dengan persiapan gowes dan senam aerobik, saya malah asyik menyeduh teh hangat.  Saya tetap mencoba istiqamah menerapkan prinsip physical distancing,  semoga cepat berakhir pandemi corona di Indonesia. Sejujurnya saya kehabisan ide untuk menulis di hari ini. Baiklah, saya pilih ide ngawur dan ringan saja daripada nggak ada bahan tulisan.  " Nggak apa apa ya ?" " Okey  kalo begitu !" Anda pernah melihat jenis mobil  di bawah ? Banyak orang menyebutnya sebagai Colt Brundul . Mobil tersebut bermerek Mitsubishi dengan nama varian Colt T120  diproduksi antara tahun 1973-1981 dan merupakan salah satu jenis mobil bak terbuka. Kedua hal ini menjadi sebab ia dikenal sebagai Colt Brundul.  Soal tenaga angkut, sudah pasti terbukti.  Silakan tanya kepada yang pernah menjajalnya. Banyak wong sugih dahulu lebih menyukai membeli colt brundul daripada mobil  pick up lain atau mobil penumpang (station wagon). Pertimbangan manfaat le...

Hidayah

Lebih dua dasawarsa, saya tidak bersua sejumlah teman saat masih bersama menimba ilmu di sekolah menengah.  Banyak perubahan fisik diantara kami, pasti. Tetapi, raut muka dan karakteristik personal tetap  ajeg  diantara kita. Banyak  obrolan  saling kami bagi. Dari sekian ragam pembicaraan ada satu yang menarik, menurut saya, untuk dipetik sebagai perjalanan hidup : hidayah. Saya tertegun sebab kini banyak teman yang dulu beragama selain Islam, kini telah memilih Islam sebagai jalan hidup.  Nggak  ragu saya mengatakan dulu mereka kafir, kini  muallaf. Alhamdulillahilladzi bini'matihi tathimush shalihaat.  Sambil  mbatin,  saya meyakinkan diri bahwa mereka menjadi  muallaf  bukan karena mi instan, beras dan minyak goreng serta sembako (sembilan bahan pokok). Saya kaget [namun tidak sampai  lebay ], karena mereka berpindah keyakinan menjadi muslim. Saya yakin, itu semua terjadi karena hidayah Allah  Tabaraka wa Ta'ala.  Namun, saya tidak yakin bila hidayah kepada meraka datang se...

Angka Kematian Hilang Karena Luhut

Rasanya terlalu berat untuk membenarkan keputusan koordinator Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat, Luhut Binsar Pandjaitan. Dia---untuk Luhut, saya lebih nyaman memakai kata ganti dia daripada beliau ---memutuskan tidak memasukkan angka kematian sebagai indikator harian dalam penanganan pandemi Covid . Keputusan tersebut hampir pasti melukai perasaan keluarga korban meninggal akibat Covid . Seolah kematian anggota keluarga mereka tidak berarti di mata pemerintah. Selain merepresentasikan sikap nir-empati kepada keluarga korban meninggal, keputusan Luhut menghilangkan angka kematian juga mengacaukan penanganan pandemi Covid itu sendiri. Langkah Luhut tersebut dilatarbelakangi banyak kesalahan dalam memasukkan (entry) angka kematian harian. Jika ini sebagai akar masalahnya, maka pembenahan sistem entry data kematian menjadi solusinya. Menghilangkan data kematian justru menjadi bentuk "lari" dari kesalahan. Secara terbuka, saya sangat ragu bila kesa...