Skip to main content

Buku

Buku ialah sumber pengetahuan.

Bagaimana cara mendapatkan pengetahuan itu ?

Membaca. 

Kita ketahui bahwa  membaca ialah proses transfer pengetahuan dari penulis kepada pembaca dengan media buku. Tanpa buku, proses transfer pengetahuan tak akan  bisa terwujud.

Meski banyak media pengetahuan  selain buku, namun keberadaan buku sebagai media utama membaca selalu memiliki tempat di hati penikmatnya.

Buku berfungsi sebagai ruang temu antara penulis dan pembaca dalam pola komunikasi searah namun bersifat mutualisme (saling menguntungkan).
Penulis berkeinginan membagi pengetahuannya kepada publik dan publik memiliki kebutuhan akan pengetahuan.

Sebagai penikmat buku, saya selalu selektif dalam memilih buku yang akan saya baca. 
Selektif yang saya maksud bukan mengenai sejumlah uang yang harus saya keluarkan untuk mendapatkan satu eksemplar buku. Bukan. Bukan itu.

Selektivitas saya terhadap  buku yang akan saya miliki terkait dengan tiga pertimbangan yaitu : kompetensi, konsistensi dan independensi penulis.

Kompetensi Penulis
Penulis sebelum menulis buku harus memiliki pemahaman dan penguasaan pada suatu bidang secara spesifik. Hal ini mutlak dimiliki seorang penulis. 
Kuncinya ialah pada relevansi antara latar belakang penulis dengan tema buku yang ditulis.

Kemampuan suatu bidang yang dipahami dan dikuasai bisa bersifat akademik maupun non-akademik. Tema buku yang ditulis ialah eksternalisasi kemampuan  penulis.

Seorang penulis dengan gelar akademik berjejer tentu tidak tepat bila ia menulis buku tentang memasak. Sebaliknya seorang dengan latar belakang akademik terbatas namun ia memiliki segudang prestasi di suatu bidang dan ia menulis tentang bidang yang ia kuasai maka hal ini merupakan bentuk kesesuaian yang tepat.

Konsistensi Penulis
Seorang penulis akan dikenal hebat bila selalu konsisten menulis buku dengan tema  yang tidak jauh berbeda dari sejumlah buku yang telah ditulisnya.

Konsistensi penulis membangkitkan kepercayaan publik dan menjadikannya referensi bacaan.

Sangat wajar bila sejumlah buku best seller biasanya dimiliki oleh para penulis yang konsisten dalam suatu tema.

Independensi Penulis
Bagi saya, independensi penulis  ialah kebebasan penulis untuk menulis buku atas dasar inisiatif pribadi. Dia tidak menulis buku atas pesanan pihak lain demi suatu tujuan tertentu. 

Independensi penulis bukan berarti menihilkan sifat keberpihakan yang dia miliki. 
Dia tetap bebas mengambil keberpihakan namun bukan pada person melainkan keberpihakan terhadap nilai-nilai kebenaran, pengetahuan dan kemanusiaan.

Bagaimana menurut Anda ?
 

(***)







.

Comments

Popular posts from this blog

Hikmah Perkembangan Kelapa sebagai Pengingat Kematian

Kematian didefinisikan secara ringkas sebagai berpisahnya ruh dari jasad. Berhentinya segala fungsi organ tubuh merupakan akibat dari hal itu. Tulisan singkat ini lebih sebagai analogi sederhana bahwa kematian tidaklah mengenal umur. Bagi masyarakat Jawa, perkembangan buah kelapa memiliki arti filosofis yang membuktikan bahwa kematian tidaklah mengenal usia. Yang lebih tua tidak mesti lebih dulu meninggal dunia daripada yang lebih muda. Kelapa memiliki perkembangan bertahap mulai dari : bluluk , cengkir , degan , dan krambil. Bluluk ialah bentuk buah kelapa yang berukuran sebesar telur ayam. Cengkir ialah bentuk lanjutan dari bluluk yang berukuran sebesar  tangan orang dewasa dan belum memiliki daging buah. Degan ialah buah kelapa muda yang memiliki tekstur kenyal pada daging buah. Banyak orang menikmati degan  dengan cara memakan daging buah dan meminum airnya. Nikmat dan tentu saja segar. Krambil ialah buah kelapa tua yang memiliki tekstur keras pada daging buah. Inilah tahap buah...