Skip to main content

Warkop

Ingatan saya ketika mendengar nama warkop ialah warkop DKI. Warung Kopi Dono, Kasino dan Indro. Sebuah grup lawak legendaris Tanah Air. Biasa tayang di televisi ketika Lebaran.

Benar nggak ?

Namun, bukan tentang warkop DKI kali ini yang saya coba bicarakan. Nggak pernah selesai kalau bicara Warkop DKI.

Nggih mboten ?

Kali ini tentang warkop yang sesungguhnya. Warung kopi in the real life.

Sok nginggris dikit lah..!!!

Konsepnya masih sama dengan warkop lain pada umumnya. Sajian utama berupa kopi hitam dan gorengan atau beragam makanan ringan. Yang pasti, warkop ialah tempat paling ramah untuk berkumpul bagi rakyat kecil. Starbukcs-nya wong cilik.
Begitulah kira kira.

Warkop ini punya sisi spesial bagi kaum pria.

"Apanya yang spesial, warkop dari dulu yaa gitu-gitu aja ?"

"Eeiitsss.."

"Tunggu dulu."

"Yang bikin spesial ialah penjualnya. Kalau warkop lain penjualnya lelaki, kali ini yang jual cewek..!!"

"Wah...!!!!"

"Yaa cewek. Kayak nggak pernah lihat cewek aja..!! Cewek penjual warkop. Ceweknya cuantiiik banget. Pramugari..!!!!!"

"Yang bener ?"

"Tuh... Kalau dah dengar cewek cantik, bawaannya masih bujang aja.!!!"

Memang benar ada sebuah warkop di Kota Klaten dengan penjualnya seorang pramugari cantik. Saya tegaskan lagi : pramugari cantik.!!

"Ojo kemecer. Biasa wae..!"

Bukan karena magang atau tugas dari maskapai tempatnya bekerja, namun pramugari itu ialah anak dari pemilik warkop.

"Gimana ceritanya sampai pramugari mau jualan di warkop ?"

Sejak mewabahnya Corona di Indonesia, maskapai tempatnya bekerja memberlakukan kebijakan efisiensi pegawai. Salah satunya dengan merumahkan sebagian pramugari untuk sementara waktu.

"Daripada di rumah nggak ada kerjaan, mending bantuan ibu jualan di warkop."

Mungkin itu pemikiran pramugari tersebut. Bagus. Sangat patut diapresiasi.

Fenomena pramugari berjualan di warkop menarik untuk dilihat sebagai sebuah potensi.

Potensi keuntungan finansial.

Kemauan pramugari berjualan di warkop, menurut saya, memiliki dua aspek branding dalam memenangkan kompetisi di antara sekian jumlah warkop yang ada.

Personal Branding. Pramugari dikesankan dengan sosok wanita anggun nan cantik.

Dengan dua karakteristik yang dimilikinya, dia mampu membangun kesan attractive bagi kaum pria untuk datang ke warkop tempatnya berjualan.

Pria normal, termasuk saya, pasti dan selalu ingin dekat dengan wanita cantik. Apalagi sosok pramugari, kecantikannya sudah pasti diakui.

Saya membayangkan. Andai saya datang ke warkop tersebut dan dibuatkan kopi oleh sang pramugari cantik, maka tidak berlebihan saya katakan bahwa nongkrong di warkop serasa duduk di kelas eksekutif pesawat terbang.

"Wuuuiihhhhh...!!!"

Product Branding. Pada umumnya warkop berkonsep sederhana. Sebatas menyediakan ruang secukupnya untuk makan dan minum serta tanpa adanya brand warkop. Dari sisi bisnis, profile warkop seperti ini kurang bisa "menjual."

Keterbatasan pemahaman pemilik warkop terhadap ilmu marketing menjadi sebab banyak warkop kurang begitu berkembang.

Warkop dengan pramugari sebagai penjual, sejauh yang saya ketahui, belum pernah ada. Warkop tersebut sangat potensial untuk dikembangkan sebagai bisnis profesional bila memiliki brand atau merek.  

Pramugari berjualan di warkop menjadi booming karena pemberitaan berbagai media. Sekarang ialah moment  tepat  membangun image kepada pelanggan. 

Bagaimana bila warkop tersebut memakai brand sebagai Warkop Pramugari ?

Kehadiran pramugari di warkop  merupakan nilai tambah sebagai  keunggulan kompetitif yang tidak dimiliki warkop lain pada umumnya.

Pelanggan yang datang menikmati secangkir kopi akan menerima service kelas satu. 

Tentang komedi, legendanya ialah Warkop DKI.

Tentang warkop, legendanya ialah Warkop Pramugari.

What next ?

(***)




Comments

Popular posts from this blog

Hikmah Perkembangan Kelapa sebagai Pengingat Kematian

Kematian didefinisikan secara ringkas sebagai berpisahnya ruh dari jasad. Berhentinya segala fungsi organ tubuh merupakan akibat dari hal itu. Tulisan singkat ini lebih sebagai analogi sederhana bahwa kematian tidaklah mengenal umur. Bagi masyarakat Jawa, perkembangan buah kelapa memiliki arti filosofis yang membuktikan bahwa kematian tidaklah mengenal usia. Yang lebih tua tidak mesti lebih dulu meninggal dunia daripada yang lebih muda. Kelapa memiliki perkembangan bertahap mulai dari : bluluk , cengkir , degan , dan krambil. Bluluk ialah bentuk buah kelapa yang berukuran sebesar telur ayam. Cengkir ialah bentuk lanjutan dari bluluk yang berukuran sebesar  tangan orang dewasa dan belum memiliki daging buah. Degan ialah buah kelapa muda yang memiliki tekstur kenyal pada daging buah. Banyak orang menikmati degan  dengan cara memakan daging buah dan meminum airnya. Nikmat dan tentu saja segar. Krambil ialah buah kelapa tua yang memiliki tekstur keras pada daging buah. Inilah tahap buah...