Skip to main content

Kebahagiaan Kecil





Tadi malam selepas shalat Isya' suhu udara terasa dingin. Kata pakar klimatologi, terdapat anomali cuaca di bulan Agustus saat ini.  Seharusnya bulan ini masuk musim kemarau, namun masih ada hujan meski tidak terlalu deras. Yaa sudah, saya ikuti apa yang disampaikan pakar yang kompeten di bidangnya.

Karena nggak ada kesibukan, saya mencari-cari kesibukan kecil di rumah. Kebetulan juga, masih ada singkong mentah yang telah dikupas kulitnya.  Saya potong batang singkong  menjadi beberapa bagian kecil. Lalu, dengan air mengalir saya bersihkan setiap potongan singkong tersebut. Selesai. 

Kini saatnya mengisi panci kecil dengan air dan saya masukkan sejumlah potongan kecil singkong mentah ke dalamnya.

Saya tempatkan panci berisi air dan sejumlah potongan singkong mentah di atas kompor gas. Saya putar ke kiri putaran pada kompor gas sehingga api menyala memanasi panci berisi air dan singkong mentah. 

Sembari menunggu matangnya beberapa potongan singkong tersebut, saya mencari "teman" singkong hangat. 

Saya coba bikin teh untuk menjadi "teman" menikmati singkong hangat sekaligus mengusir rasa dingin.
Tentu, saya setiap bikin teh  selalu memadukan beberapa varian teh dalam satu teko berukuran sedang. Paduan beberapa varian rasa teh saya lakukan untuk mendapatkan kombinasi rasa yang saling melengkapi. 

Setelah beberapa varian rasa teh saya tempatkan dalam teko sedang, mulailah saya memasak air hingga mendidih. 
Sekitar 10 menit kemudian air mendidih. Lalu, saya tuang air mendidih itu ke dalam teko berisi beberapa varian teh. Air panas mengisi ruang teko yang berisi beberapa varian teh hingga terisis sekitar 3/4 bagian. 
Aduk sebentar agar menghasilkan campuran rasa teh yang merata. Selanjutnya saya menuang racikan teh yang telah bercampur ke dalam gelas ukuran sedang. 
Pastinya, saya gunakan saringan teh agar air teh yang tertuang ke dalam gelas terlihat bening.

Beberapa saat kemudian, singkong telah matang. Lalu, saya taruh beberpa potongan singkong di atas piring keramik tanpa alas daun.

Kini, di atas meja tersedia teh hangat dan singkong rebus untuk dinikmati ketika dingin menyergap.

Makanan dan minuman sederhana di atas merupakan sepasang menu kegemaran saya sejak dulu.

Terasa nikmat banget memadukan keduanya. 

Inilah bentuk kebahagiaan kecil bagi saya. 

Bahagia bukanlah soal materi. 

Bahagia ialah konsep menikmati kesukaan pada saat yang tepat.

(***)

Comments

Popular posts from this blog

Hikmah Perkembangan Kelapa sebagai Pengingat Kematian

Kematian didefinisikan secara ringkas sebagai berpisahnya ruh dari jasad. Berhentinya segala fungsi organ tubuh merupakan akibat dari hal itu. Tulisan singkat ini lebih sebagai analogi sederhana bahwa kematian tidaklah mengenal umur. Bagi masyarakat Jawa, perkembangan buah kelapa memiliki arti filosofis yang membuktikan bahwa kematian tidaklah mengenal usia. Yang lebih tua tidak mesti lebih dulu meninggal dunia daripada yang lebih muda. Kelapa memiliki perkembangan bertahap mulai dari : bluluk , cengkir , degan , dan krambil. Bluluk ialah bentuk buah kelapa yang berukuran sebesar telur ayam. Cengkir ialah bentuk lanjutan dari bluluk yang berukuran sebesar  tangan orang dewasa dan belum memiliki daging buah. Degan ialah buah kelapa muda yang memiliki tekstur kenyal pada daging buah. Banyak orang menikmati degan  dengan cara memakan daging buah dan meminum airnya. Nikmat dan tentu saja segar. Krambil ialah buah kelapa tua yang memiliki tekstur keras pada daging buah. Inilah tahap buah...