Skip to main content

Kebakaran Gedung Korps Adhyaksa



Breaking News semalam menayangkan peristiwa kebakaran  yang terjadi di gedung Kejaksaan Agung Republik Indonesia. Berita tersebut menjadi kabar mengagetkan, setidaknya bagi saya.

Terbesit pertanyaan di benak saya kenapa gedung Kejaksaan Agung yang termasuk objek vital negara bisa terbakar hebat. Bahkan, butuh waktu sekitar 11 jam untuk memadamkannya.

Saya berbincang ke sejumlah orang terdekat mengenai peristiwa semalam. Sebagian besar menaruh curiga tentang terbakarnya gedung korps adhyaksa tersebut.

Sebagian teman yang saya temui mengatakan bahwa kebakaran gedung Kejaksaan Agung terjadi karena kesengajaan.

Kecurigaan tersebut terkait beberapa kasus besar saat ini yang sedang dituntaskan Kejaksaan Agung yakni : kasus skandal Jiwasraya, kasus Djoko Tjandra, sejumlah kasus besar korupsi merugikan Bank Mandiri, Bank Tabungan Negara, Danareksa Sekuritas serta berbagai kasus besar lainnya.

Kebakaran sengaja dilakukan untuk memusnahkan sejumlah besar dokumen yang berkaitan dengan pengusutan perkara tersebut. Analisanya memang asumtif, spekulatif dan cenderung praduga dengan sedikit objektivitas. Tapi, tidak menutup kemungkinan memang demikian adanya. 
Siapa tau ?

Mereka beranalogi pada kasus kebakaran di lantai 23, 24, 25 gedung Bank Indonesia tanggal 8 Desember 2000. Peristiwa 20 tahun lalu masih mereka ingat dengan baik. 

Pasca kebakaran tersebut, Kejaksaan Agung mengalami kesulitan dalam menemukan sejumlah dokumen  terkait penuntasan kasus skandal Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI).

Dan, kita lihat sampai saat ini. Bagaimana penuntasan skandal kasus BLBI tersebut ?

Sebagian lagi bersikap  tidak percaya bahwa gedung Kejaksaan Agung dengan mudahnya bisa terbakar. 

Mereka menyisakan satu pertanyaan apa mungkin sistem pencegahan kebakaran gedung Kejaksaan Agung tidak berfungsi secara maksimal ?

Kita semua hanya bisa menunggu hasil investigasi kepolisian mengenai sebab terbakarnya gedung Kejaksaan Agung.

Saya memilih tidak berkomentar apapun terhadap kebakaran yang melahap gedung Kejaksaan Agung.

Bagaimanapun juga, kejadian kebakaran semalam menyisakan potensi duka bagi penegakan hukum di Indonesia.

(***)

Comments

Popular posts from this blog

Hikmah Perkembangan Kelapa sebagai Pengingat Kematian

Kematian didefinisikan secara ringkas sebagai berpisahnya ruh dari jasad. Berhentinya segala fungsi organ tubuh merupakan akibat dari hal itu. Tulisan singkat ini lebih sebagai analogi sederhana bahwa kematian tidaklah mengenal umur. Bagi masyarakat Jawa, perkembangan buah kelapa memiliki arti filosofis yang membuktikan bahwa kematian tidaklah mengenal usia. Yang lebih tua tidak mesti lebih dulu meninggal dunia daripada yang lebih muda. Kelapa memiliki perkembangan bertahap mulai dari : bluluk , cengkir , degan , dan krambil. Bluluk ialah bentuk buah kelapa yang berukuran sebesar telur ayam. Cengkir ialah bentuk lanjutan dari bluluk yang berukuran sebesar  tangan orang dewasa dan belum memiliki daging buah. Degan ialah buah kelapa muda yang memiliki tekstur kenyal pada daging buah. Banyak orang menikmati degan  dengan cara memakan daging buah dan meminum airnya. Nikmat dan tentu saja segar. Krambil ialah buah kelapa tua yang memiliki tekstur keras pada daging buah. Inilah tahap buah...