Skip to main content

Toleransi




Apapun alasannya kekerasan fisik tetap tidak dibenarkan terlebih kepada orang yang tidak memulai pertikaian. Terjadinya kasus kekerasan berupa penyerangan oleh sekelompok orang ke satu keluarga di Solo kembali memunculkan isu pentingnya toleransi.

Terkait insiden tersebut, saya tetap percaya bahwa Kepolisian Republik Indonesia (polri) mampu menuntaskan secara professional. 

Toleransi diartikan sebagai sikap saling menghargai dan menghormati antar kelompok atau antar individu dalam kehidupan bermasyarakat. Dalam beragama tentu wajib dihadirkan sikap toleransi. 

Ketika saya berbincang dengan seorang teman, ia kerap memaknai toleransi beragama sebagai sikap selalu mengalah demi kebaikan meskipun menabrak sejumlah norma yang selama ini dianut dalam bermasyarakat. Ia juga merasakan bahwa sikap toleransi beragama seringkali diarahkan kepada agama yang dipeluk oleh mayoritas masyarakat. Saya  sependapat dengan pernyataan  teman saya tersebut, tetapi hanya sebagian. 

Saya pribadi mesti berhati-hati dalam membicarakan toleransi beragama. Apa yang saya katakan bisa jadi dimaknai sebagai sikap intoleransi bagi sejumlah individu "sumbu pendek." 

Menyikapi toleransi beragama, saya pisahkan menjadi dua kategori yakni : toleransi seagama dan toleransi beda  agama. 

Toleransi seagama.
Saya seorang muslim. Tentu agama saya Islam. Setiap muslim ialah saudara seiman bagi saya, meskipun saya tidak mengenal dekat dan tidak ada pertalian darah.

Dalam Islam, kesamaan Aqidah (keyakinan) ialah  kesamaan dalam satu agama. Meskipun Aqidah sama, perbedaan dalam mazhab selalu ada. Perbedaan mazhab dalam Islam tidak menyebabkan terpecahnya umat Islam menjadi beberapa golongan. Mereka tetap saudara seiman meski berbeda mazhab.

Teman saya ketika Shalat Shubuh selalu memakai doa Qunut, sementara saya tidak memakainya. Antara kita tetap dikatakan sebagai saudara seiman meskipun berbeda dalam mazhab. 

Namun, jika suatu ketika ada ketidaksamaan dalam Aqidah, maka saat itu telah terjadi perbedaan agama di antara kita. 
Ini prinsip saya.

Misalkan. Suatu ketika ada sebagian kelompok dengan mengenakan atribut Islam lalu mereka meyakini bahwa Muhammad bukanlah Nabi terakhir, maka antara saya dan mereka tidak lagi satu agama. Karena, dalam Islam disebutkan bahwa Muhammad ialah Nabi terakhir dan tidak akan pernah ada nabi-nabi lain setelahnya.

Ketika terjadi perbedaan Aqidah, maka saya tetap mengenal mereka namun saya tidak akan mengikuti tata cara ibadah mereka demikian pula sebaliknya.

Saya tidak memiliki hak melarang ibadah dan berbuat kekerasan kepada mereka. Namun, mereka tidak bisa melarang saya  memberitakan kepada orang yang belum paham bahwa antara saya dan dia sudah berbeda keyakinan. 

Ini wujud toleransi yang saya lakukan.
 
Toleransi beda agama.
Saya mesti mengatakan bahwa setiap orang yang berbeda agama dengan saya ialah saudara sebangsa. 

Setiap usaha untuk menjaga kerukunan dan persatuan dengan dilandasi semangat kebersamaan dan tidak mempertentangkan ajaran antar agama ialah prinsip saya dalam bertoleransi terhadap pemeluk agama lain.

Saya tetap menghargai upaya saudara seiman saya dalam partisipasi ikut merayakan perayaan ibadah agama lain dengan cara menjaga keamanan dan ketertiban. Saya akui bahwa saya tidak mampu melakukan hal  di atas karena saya  meyakini aparat keamanan masih memiliki kemampuan dalam menjaga keamanan dan ketertiban ibadah umat beragama lain. 

Toleransi kepada umat beda agama saya terapkan dalam praktik keseharian dan bukan pada partisipasi perayaan upacara keagamaan.

Saya juga tidak membenarkan perlakuan sewenang-wenang saudara seiman saya kepada pemeluk agama lain dengan berbagai dalih pembenar.


Selesai.

(***)












Comments

Popular posts from this blog

Colt Brundul

Minggu pagi ketika banyak orang sibuk dengan persiapan gowes dan senam aerobik, saya malah asyik menyeduh teh hangat.  Saya tetap mencoba istiqamah menerapkan prinsip physical distancing,  semoga cepat berakhir pandemi corona di Indonesia. Sejujurnya saya kehabisan ide untuk menulis di hari ini. Baiklah, saya pilih ide ngawur dan ringan saja daripada nggak ada bahan tulisan.  " Nggak apa apa ya ?" " Okey  kalo begitu !" Anda pernah melihat jenis mobil  di bawah ? Banyak orang menyebutnya sebagai Colt Brundul . Mobil tersebut bermerek Mitsubishi dengan nama varian Colt T120  diproduksi antara tahun 1973-1981 dan merupakan salah satu jenis mobil bak terbuka. Kedua hal ini menjadi sebab ia dikenal sebagai Colt Brundul.  Soal tenaga angkut, sudah pasti terbukti.  Silakan tanya kepada yang pernah menjajalnya. Banyak wong sugih dahulu lebih menyukai membeli colt brundul daripada mobil  pick up lain atau mobil penumpang (station wagon). Pertimbangan manfaat le...

Hidayah

Lebih dua dasawarsa, saya tidak bersua sejumlah teman saat masih bersama menimba ilmu di sekolah menengah.  Banyak perubahan fisik diantara kami, pasti. Tetapi, raut muka dan karakteristik personal tetap  ajeg  diantara kita. Banyak  obrolan  saling kami bagi. Dari sekian ragam pembicaraan ada satu yang menarik, menurut saya, untuk dipetik sebagai perjalanan hidup : hidayah. Saya tertegun sebab kini banyak teman yang dulu beragama selain Islam, kini telah memilih Islam sebagai jalan hidup.  Nggak  ragu saya mengatakan dulu mereka kafir, kini  muallaf. Alhamdulillahilladzi bini'matihi tathimush shalihaat.  Sambil  mbatin,  saya meyakinkan diri bahwa mereka menjadi  muallaf  bukan karena mi instan, beras dan minyak goreng serta sembako (sembilan bahan pokok). Saya kaget [namun tidak sampai  lebay ], karena mereka berpindah keyakinan menjadi muslim. Saya yakin, itu semua terjadi karena hidayah Allah  Tabaraka wa Ta'ala.  Namun, saya tidak yakin bila hidayah kepada meraka datang se...

Angka Kematian Hilang Karena Luhut

Rasanya terlalu berat untuk membenarkan keputusan koordinator Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat, Luhut Binsar Pandjaitan. Dia---untuk Luhut, saya lebih nyaman memakai kata ganti dia daripada beliau ---memutuskan tidak memasukkan angka kematian sebagai indikator harian dalam penanganan pandemi Covid . Keputusan tersebut hampir pasti melukai perasaan keluarga korban meninggal akibat Covid . Seolah kematian anggota keluarga mereka tidak berarti di mata pemerintah. Selain merepresentasikan sikap nir-empati kepada keluarga korban meninggal, keputusan Luhut menghilangkan angka kematian juga mengacaukan penanganan pandemi Covid itu sendiri. Langkah Luhut tersebut dilatarbelakangi banyak kesalahan dalam memasukkan (entry) angka kematian harian. Jika ini sebagai akar masalahnya, maka pembenahan sistem entry data kematian menjadi solusinya. Menghilangkan data kematian justru menjadi bentuk "lari" dari kesalahan. Secara terbuka, saya sangat ragu bila kesa...