Skip to main content

Ahok Ingin Kementerian BUMN Dibubarkan



Ahok tidak lepas dari kontroversi. Pria bernama lengkap Basuki Thahaja Purnama itu kini duduk sebagai Komisaris Utama (komut) Pertamina.

Jabatan komisaris utama pada  perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) tersebut memiliki kewenangan dalam mengawasi kinerja direksi Pertamina.

Dengan tugasnya tersebut, ia menyimpulkan bahwa Pertamina memiliki tata kelola buruk terkait operasional perusahaan. Tata kelola buruk pada perusahaan  minyak dan gas (migas) tersebut lalu ia konversi menjadi sebuah tuntutan agar Kementerian BUMN dibubarkan. 

Langkah mantan Gubernur DKI Jakarta itu salah sasaran. 
Bagaimana tidak, tata kelola buruk Pertamina yang merupakan bagian dari kegagalan tugasnya sebagai komisaris utama ia ubah menjadi bahan untuk menuntut pembubaran Kementerian BUMN. 

Alih-alih menuntut pembubaran Kementerian BUMN, Ahok seharusnya bertanggungjawab sehingga terjadi tata kelola buruk pada perusahaan plat merah tersebut. 

Tata kelola buruk Pertamina tidak bisa dilepasnya dari ketidakmampuan dewan komisaris melakukan pengawasan secara maksimal terhadap dewan direksi, terutama pengawasan mengenai laporan keuangan Pertamina. 

Ahok semestinya mengukur diri bahwa dia tidak mampu bertugas sebagai Komisaris Utama  Pertamina. Ia sebelumnya tidak memiliki background memadai sebagai petinggi perusahaan BUMN. Sehingga, Pertamina sebagai entitas bisnis besar dan kompleks sangat berisiko untuk dipercayakan kepada Ahok.

Risiko tersebut kini terbukti setidaknya oleh dua hal : kerugian Pertamina sebesar Rp 11,32 Triliun dan terlemparnya Pertamina dari 500 perusahaan besar dunia.

Dua bukti di atas sudah terlalu banyak untuk memaksa Ahok meninggalkan Pertamina.

Ahok semakin terlihat incompetent sebagai komisaris utama bila Pertamina dibandingkan dengan beberapa BUMN lain yang konsisten mencetak laba besar. Padahal, mereka ialah BUMN dengan sektor kompetisi usaha sangat ketat bukan pemegang monopoli seperti Pertamina.

PT. Telekomunikasi Indonesia (Telkom), PT. Bank Rakyat Indonesia (BRI), PT. Bank Mandiri, PT. Jasa Marga, PT. Perusahaan Gas Negara (PGN), PT. Batubara Bukit Asam (PTBA) merupakan sejumlah perusahaan BUMN dengan reputasi luar biasa. Keuntungan yang ditorehkan tak lepas dari kompetensi tinggi para petinggi perusahaan tersebut. 

(***)

















  

Comments

Popular posts from this blog

Colt Brundul

Minggu pagi ketika banyak orang sibuk dengan persiapan gowes dan senam aerobik, saya malah asyik menyeduh teh hangat.  Saya tetap mencoba istiqamah menerapkan prinsip physical distancing,  semoga cepat berakhir pandemi corona di Indonesia. Sejujurnya saya kehabisan ide untuk menulis di hari ini. Baiklah, saya pilih ide ngawur dan ringan saja daripada nggak ada bahan tulisan.  " Nggak apa apa ya ?" " Okey  kalo begitu !" Anda pernah melihat jenis mobil  di bawah ? Banyak orang menyebutnya sebagai Colt Brundul . Mobil tersebut bermerek Mitsubishi dengan nama varian Colt T120  diproduksi antara tahun 1973-1981 dan merupakan salah satu jenis mobil bak terbuka. Kedua hal ini menjadi sebab ia dikenal sebagai Colt Brundul.  Soal tenaga angkut, sudah pasti terbukti.  Silakan tanya kepada yang pernah menjajalnya. Banyak wong sugih dahulu lebih menyukai membeli colt brundul daripada mobil  pick up lain atau mobil penumpang (station wagon). Pertimbangan manfaat le...