Skip to main content

Menyikapi Keputusan 59 Negara Terhadap Indonesia



Sebanyak 59 negara menutup pintu kedatangan bagi Warga Negara Indonesia (WNI) untuk berkunjung. Mereka menilai bahwa Indonesia merupakan negara dengan jumlah kasus Corona yang sangat luar biasa masif. Kita harus mengakui hal tersebut.

Selain jumlah meninggal terbanyak, kasus baru Corona di Indonesia memperlihatkan angka tertinggi di Asia Tenggara. Dua tolok ukur di atas sangat mungkin menjadi pertimbangan bagi 59 negara untuk bersikap antisipatif terhadap Indonesia.

Sikap antisipatif terhadap kedatangan warga negara Indonesia (WNI) harus disikapi oleh pemerintah secara konstruktif dengan hati terbuka.

Terdapat dua bentuk sikap konstruktif pemerintah yang bisa dilakukan.

Satu. Keputusan sejumlah negara menutup kedatangan dari Indonesia sewajarnya ditransformasikan sebagai bentuk peringatan dan motivasi.

Pemerintah selayaknya menaruh perhatian besar bahwa Corona di Indonesia masih jauh dari maksimal dalam penanganannya. Sampai hari ini, 9 September 2020 tercatat ada 203.342 penderita Corona dengan jumlah kematian mencapai 8336 jiwa dan ada penambahan kasus baru sebanyak 3.307. Sejumlah angka tersebut masih menempatkan Indonesia sebagai negara di Asia Tenggara dengan jumlah penderita Corona terbanyak kedua setelah Filipina dan jumlah kematian tertinggi akibat Corona.

Keputusan 59 negara di atas selayaknya diubah motivasi positif untuk secara intensif dalam menangani penyebaran Corona di Tanah Air. Indikasi kemajuan penanganan Corona tampak dalam menurunnya rasio kematian, meningkatnya rasio kesembuhan dan menurunnya jumlah temuan kasus baru Corona.

Dua. Sebagai negara berdaulat, Republik Indonesia bisa menerapkan aksi serupa (reciprocal decision) dengan mengantisipasi kedatangan penduduk dari 59 negara tersebut. Hal ini tidak ditafsirkan sebagai aksi balasan, namun ditafsirkan sebagai usaha bersama dalam memutus penyebaran Corona.

Bentuk sikap saling mengantispasi kedatangan merupakan wujud gotong royong internasional dalam memerangi pandemi Corona agar segera berakhir.

(***)

Comments

Popular posts from this blog

Hikmah Perkembangan Kelapa sebagai Pengingat Kematian

Kematian didefinisikan secara ringkas sebagai berpisahnya ruh dari jasad. Berhentinya segala fungsi organ tubuh merupakan akibat dari hal itu. Tulisan singkat ini lebih sebagai analogi sederhana bahwa kematian tidaklah mengenal umur. Bagi masyarakat Jawa, perkembangan buah kelapa memiliki arti filosofis yang membuktikan bahwa kematian tidaklah mengenal usia. Yang lebih tua tidak mesti lebih dulu meninggal dunia daripada yang lebih muda. Kelapa memiliki perkembangan bertahap mulai dari : bluluk , cengkir , degan , dan krambil. Bluluk ialah bentuk buah kelapa yang berukuran sebesar telur ayam. Cengkir ialah bentuk lanjutan dari bluluk yang berukuran sebesar  tangan orang dewasa dan belum memiliki daging buah. Degan ialah buah kelapa muda yang memiliki tekstur kenyal pada daging buah. Banyak orang menikmati degan  dengan cara memakan daging buah dan meminum airnya. Nikmat dan tentu saja segar. Krambil ialah buah kelapa tua yang memiliki tekstur keras pada daging buah. Inilah tahap buah...