Skip to main content

Pertanyaan Konyol



Aksi unjuk rasa menolak pengesahan Undang Undang Cipta Kerja telah terjadi sejak Selasa 6 Oktober 2020.

Demonstrasi buruh dan mahasiswa terjadi hampir di seluruh provinsi menjadi bukti undang undang yang disahkan pada tanggal 5 Oktober 2020 tersebut berlawanan dengan kehendak rakyat.

Satu pertanyaan konyol datang dari pihak yang mendukung undang undang tersebut.
Mereka kerap melontarkan pertanyaan "Sudah membaca seluruhnya isi undang undang tersebut ?"

Dengan melontarkan pertanyaan tersebut, seolah-olah mereka sangat memahami setiap pasal dan penjelasan yang ada di draft undang undang yang berjumlah lebih dari 900 halaman. Padahal, mereka bukan anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) maupun tim ahli yang merumuskan setiap pasal yang ada dalam Undang Undang Cipta Kerja itu.

Konyol. Hanya karena mendukung pemerintah, serta merta ia memiliki pemahaman super cepat terhadap detail Undang Undang Cipta Kerja.

Okey. Itu hak mereka menjadi sok paling mengerti Undang Undang Cipta Kerja.

Sikap menolak terhadap Undang undang Cipta Kerja memang harus berdasarkan pemahaman. Tetapi, untuk memahaminya tidak mesti setiap individu harus membaca lebih dari 900 halaman undang undang tersebut.

Pemahaman individu bertingkat dan background akademik yang berlainan tidak menyebabkan mereka kehilangan hak memahami maksud yang ada dalam Undang Undang Cipta Kerja itu.

Sikap penolakan Undang Undang Cipta Kerja terjadi karena pemahaman sejumlah pakar maupun akademisi yang concern terhadap Undang Undang Cipta Kerja tersebut. Mereka memiliki kompetensi bidang ekonomi sehingga mampu mengidentifikasi sejumlah pasal kontroversial dalam undang undang tersebut. Sehingga, menjadi makmum terhadap pemahaman mereka tentang Undang Undang Cipta Kerja jauh lebih baik daripada setiap individu harus membaca pasal demi pasal dalam Undang Undang Cipta Kerja. Karena, yang dibutuhkan ialah memahami bukan membaca !!!

(***)




Comments

Popular posts from this blog

Colt Brundul

Minggu pagi ketika banyak orang sibuk dengan persiapan gowes dan senam aerobik, saya malah asyik menyeduh teh hangat.  Saya tetap mencoba istiqamah menerapkan prinsip physical distancing,  semoga cepat berakhir pandemi corona di Indonesia. Sejujurnya saya kehabisan ide untuk menulis di hari ini. Baiklah, saya pilih ide ngawur dan ringan saja daripada nggak ada bahan tulisan.  " Nggak apa apa ya ?" " Okey  kalo begitu !" Anda pernah melihat jenis mobil  di bawah ? Banyak orang menyebutnya sebagai Colt Brundul . Mobil tersebut bermerek Mitsubishi dengan nama varian Colt T120  diproduksi antara tahun 1973-1981 dan merupakan salah satu jenis mobil bak terbuka. Kedua hal ini menjadi sebab ia dikenal sebagai Colt Brundul.  Soal tenaga angkut, sudah pasti terbukti.  Silakan tanya kepada yang pernah menjajalnya. Banyak wong sugih dahulu lebih menyukai membeli colt brundul daripada mobil  pick up lain atau mobil penumpang (station wagon). Pertimbangan manfaat le...

Hidayah

Lebih dua dasawarsa, saya tidak bersua sejumlah teman saat masih bersama menimba ilmu di sekolah menengah.  Banyak perubahan fisik diantara kami, pasti. Tetapi, raut muka dan karakteristik personal tetap  ajeg  diantara kita. Banyak  obrolan  saling kami bagi. Dari sekian ragam pembicaraan ada satu yang menarik, menurut saya, untuk dipetik sebagai perjalanan hidup : hidayah. Saya tertegun sebab kini banyak teman yang dulu beragama selain Islam, kini telah memilih Islam sebagai jalan hidup.  Nggak  ragu saya mengatakan dulu mereka kafir, kini  muallaf. Alhamdulillahilladzi bini'matihi tathimush shalihaat.  Sambil  mbatin,  saya meyakinkan diri bahwa mereka menjadi  muallaf  bukan karena mi instan, beras dan minyak goreng serta sembako (sembilan bahan pokok). Saya kaget [namun tidak sampai  lebay ], karena mereka berpindah keyakinan menjadi muslim. Saya yakin, itu semua terjadi karena hidayah Allah  Tabaraka wa Ta'ala.  Namun, saya tidak yakin bila hidayah kepada meraka datang se...

Angka Kematian Hilang Karena Luhut

Rasanya terlalu berat untuk membenarkan keputusan koordinator Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat, Luhut Binsar Pandjaitan. Dia---untuk Luhut, saya lebih nyaman memakai kata ganti dia daripada beliau ---memutuskan tidak memasukkan angka kematian sebagai indikator harian dalam penanganan pandemi Covid . Keputusan tersebut hampir pasti melukai perasaan keluarga korban meninggal akibat Covid . Seolah kematian anggota keluarga mereka tidak berarti di mata pemerintah. Selain merepresentasikan sikap nir-empati kepada keluarga korban meninggal, keputusan Luhut menghilangkan angka kematian juga mengacaukan penanganan pandemi Covid itu sendiri. Langkah Luhut tersebut dilatarbelakangi banyak kesalahan dalam memasukkan (entry) angka kematian harian. Jika ini sebagai akar masalahnya, maka pembenahan sistem entry data kematian menjadi solusinya. Menghilangkan data kematian justru menjadi bentuk "lari" dari kesalahan. Secara terbuka, saya sangat ragu bila kesa...