Skip to main content

Khatam aL Qur'an Setiap 30 Hari


#by : b. yudhiarto#

Al Qur'an ialah Kalamullah. Al Qur'an merupakan wahyu yang diTurunkan kepada Rasullulah.

Pada zaman Rasullullah masih hidup, al-Qur'an ditulis pada media sederhana yaitu pelepah kurma dan kulit binatang.

Sampai dengan akhir kekhalifahan 'Umar bin Khatthab, al Qur'an belum dibukukan dalam satu kesatuan.

Pada masa kekhalifahan 'Utsman bin 'Affan, usaha mengumpulkan tulisan al-Qur'an yang terpisah-pisah mulai dilakukan. 
Al Qur'an yang tersusun dalam satu kitab tersebut kini dikenal dengan sebutan Mushaf  &Utsmani.

Saya sehari-hari bertilawah menggunakan al Qur'an Qat Beirut. Mushaf tersebut terdiri dari 604 halaman.

Cara mengkhatamkan Mushaf Qur'an Beirut ialah :

1. Membagi jumlah halaman dengan jumlah hari dalam sebulan (Masehi).

Mushaf berisi 604 halaman                kita bagi dengan 30 hari, maka          diperoleh hasil 20,13                            halaman/hari. 

Kita jadikan sebagai target pertama sebanyak 20                    halaman/hari.

2. Membagi hasil perhitungan        pada nomor 1 dengan banyaknya shalat wajib.

Setelah diperoleh target pertama sebanyak 20 halaman/hari, selanjutnya dibagi lagi ke dalam 5 waktu shalat (Shubuh, Dzuhur, Ashar, Maghrib, dan Isya').

20 halaman/hari dibagi dengan 5, maka diperoleh target kedua sebanyak 4 halaman/waktu shalat wajib.

3. Membagi hasil perhitungan pada nomor 2 dengan waktu sebelum dan sesudah shalat wajib lima waktu.

4 halaman/waktu shalat wajib dibagi dengan 2 yaitu sebelum (qabla) dan sesudah  (ba'da) shalat wajib sehingga diperoleh target terakhir yaitu 2 halaman sebelum dan 2 halaman sesudah shalat wajib.

Insya Allah, bisa dilakukan dengan mudah dan saya telah melazimkan hal tersebut.

Bi idznillah.




Comments

Popular posts from this blog

Hikmah Perkembangan Kelapa sebagai Pengingat Kematian

Kematian didefinisikan secara ringkas sebagai berpisahnya ruh dari jasad. Berhentinya segala fungsi organ tubuh merupakan akibat dari hal itu. Tulisan singkat ini lebih sebagai analogi sederhana bahwa kematian tidaklah mengenal umur. Bagi masyarakat Jawa, perkembangan buah kelapa memiliki arti filosofis yang membuktikan bahwa kematian tidaklah mengenal usia. Yang lebih tua tidak mesti lebih dulu meninggal dunia daripada yang lebih muda. Kelapa memiliki perkembangan bertahap mulai dari : bluluk , cengkir , degan , dan krambil. Bluluk ialah bentuk buah kelapa yang berukuran sebesar telur ayam. Cengkir ialah bentuk lanjutan dari bluluk yang berukuran sebesar  tangan orang dewasa dan belum memiliki daging buah. Degan ialah buah kelapa muda yang memiliki tekstur kenyal pada daging buah. Banyak orang menikmati degan  dengan cara memakan daging buah dan meminum airnya. Nikmat dan tentu saja segar. Krambil ialah buah kelapa tua yang memiliki tekstur keras pada daging buah. Inilah tahap buah...