Skip to main content

Ora Opo Opo

Senin pagi ini Jakarta tampak mendung. Matahari enggan menampakkan sinarnya. Tak seperti beberapa hari sebelumnya.  

Hari ini tanggal 13 Juli 2020 dimulainya tahun ajaran baru bagi anak sekolah di semua jenjang. Semoga saja suasana mendung pagi ini bukan firasat tentang suramnya kualitas pendidikan di saat pandemi Corona yang belum menunjukkan kapan akan berakhir.

Allahu A'lam.

Saya tetiba teringat  ketika menjadi siswa baru di tingkat SMP (Sekolah Menengah Pertama) dan SMA (Sekolah Menengah Atas).

Dulu, para murid baru mengawali sekolah di tingkat SMP dan SMA  dengan mengikuti upacara penerimaan siswa baru di hari Senin. Saat itu pula semua siswa saling berkenalan sesama mereka. Setelah mereka saling kenal maka pendidikan wajib yang harus diikuti ialah Penataran P4 (Pedoman penghayatan dan Pengamalan Pancasila) yang dilakukan selama satu minggu. Itu berlaku bagi murid baru tingkat SMP dan SMA.

Jaman sekarang  istilah yang tepat menganalogikan hal di atas ialah MOS (Masa Orientasi Siswa). Sejenis kegiatan pengenalan lingkungan sekolah dan dilengkapi adanya sejumlah tugas dari kakak senior untuk melatih kekompakan sesama teman. 

Alhamdulillah, hal itu bermanfaat.

Ada yang berbeda pada tahun ajaran kali ini. Tidak diadakannya masa orientasi sekolah dan sejenisnya menjadi pembeda dari tahun tahun ajaran baru sebelumnya.

Ora opo opo yang penting masih bisa sekolah.

Wabah Corona yang belum berakhir menjadi sebab utama tidak diadakannya seremonial penerimaan siswa baru dan kegiatan kegiatan pra akademik.

Ora opo opo sebab hal tersebut tidak mengurangi esensi nilai nilai pendidikan.

Tahun tahun sebelumnya, pasti tidak ada belajar online. Semua belajar secara tatap muka antara murid dan guru dalam ruang kelas. Bagi saya, metode belajar tatap muka antara murid dan guru memberikan sensasi yang tidak bisa tergantikan.

Ora opo opo kalau ada yang beda pendapat dengan hal tersebut.

Tahun ajaran 2020 sebagian besar cara belajar murid baru dilakukan secara online dari rumah. Metode belajar tersebut ditempuh untuk mengurangi risiko penularan Corona.Tak ada tatap muka antara guru dan murid dalam kelas. Para murid tetap berpakaian seragam dan menatap layar komputer tetapi tetap di dalam rumah.

Ora opo opo metode belajar online karena situasi darurat. Itu lebih baik daripada nggak belajar babar blas. 

Masih banyaknya zona merah dan sedikitnya zona hijau serta zona kuning di berbagai wilayah yang terdampak Corona menjadi alasan diberlakukannya metode belajar online.
 
Ora opo opo yang penting semua murid selamat dari ancaman Corona.

Metode belajar online yang  diterapkan saat ini sejatinya dilakukan tanpa adanya perencanaan dan kesiapan. Kalau pun ada kesiapan saya yakin perlu adanya try out akan efektivitas metode belajar online tersebut.  Saya pahami hal itu karena wabah Corona sebagai pemantik belajar online telah masuk ke Indonesia tanpa pemberitahuan terlebih dahulu.

Ora opo opo. Anggap saja metode belajar online sebagai sikap responsif untuk selamat dari ancaman Corona namun tanpa menihilkan proses belajar.

Ora opo opo bila saya bertanya ?

Bila pandemi Corona ini berakhir, apakah metode belajar online akan terus diberlakukan ?

Saya berpendapat bahwa belajar online merupakan metode belajar substitusi dan temporer. 
Keberadaannya tidak bisa mengeliminasi sistem belajar tatap muka antara guru dan murid di kelas. Bentuk interaksi  aktif antara guru dan murid di kelas merupakan bentuk komunikasi dua arah yang dapat seketika dirasakan efektivitasnya oleh guru dan murid. Cara tersebut merupakan bentuk transfer ilmu yang terbaik

Mempertahankan metode belajar tatap muka antara guru dan murid di kelas memberikan sebuah pesan yang selalu melekat bagi guru dan siswa.

Bagi guru, mengajar di kelas memberikan pesan pengingat bahwa mereka sedang melakukan pengabdian kepada negara dalam bentuk memberikan ilmu kepada peserta didik untuk menjadi generasi yang lebih berguna di kemudian hari.

Bagi siswa, mengikuti pelajaran di kelas memberikan pesan pengingat bahwa menuntut ilmu perlu perjuangan dan semangat yang tak mudah padam. Mereka akan menghargai jerih payah berupa energi dan waktu yang digunakan untuk mendapatkan ilmu.

Terakhir...

Bagi saya, mempertahankan kegiatan belajar mengajar di kelas pada hakikatnya menjunjung tinggi martabat sekolah sebagai institusi yang berperan dalam mencerdaskan bangsa.

Selamat belajar.

(***)





Comments

Popular posts from this blog

Hikmah Perkembangan Kelapa sebagai Pengingat Kematian

Kematian didefinisikan secara ringkas sebagai berpisahnya ruh dari jasad. Berhentinya segala fungsi organ tubuh merupakan akibat dari hal itu. Tulisan singkat ini lebih sebagai analogi sederhana bahwa kematian tidaklah mengenal umur. Bagi masyarakat Jawa, perkembangan buah kelapa memiliki arti filosofis yang membuktikan bahwa kematian tidaklah mengenal usia. Yang lebih tua tidak mesti lebih dulu meninggal dunia daripada yang lebih muda. Kelapa memiliki perkembangan bertahap mulai dari : bluluk , cengkir , degan , dan krambil. Bluluk ialah bentuk buah kelapa yang berukuran sebesar telur ayam. Cengkir ialah bentuk lanjutan dari bluluk yang berukuran sebesar  tangan orang dewasa dan belum memiliki daging buah. Degan ialah buah kelapa muda yang memiliki tekstur kenyal pada daging buah. Banyak orang menikmati degan  dengan cara memakan daging buah dan meminum airnya. Nikmat dan tentu saja segar. Krambil ialah buah kelapa tua yang memiliki tekstur keras pada daging buah. Inilah tahap buah...